Rabu, 22 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Varisela

ASUHAN KEPERAWATAN VARISELA



A. KONSEP MEDIS

1. Definisi
Varisela berasal dari bahasa latin, Varicella. Di Indonesia penyakit ini dikenal dengan istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama Chicken – pox.
Varisela adalah Penyakit Infeksi Menular yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster, ditandai oleh erupsi yang khas pada kulit.
Varisela atau cacar air merupakan penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster dengan gejala-gejala demam dan timbul bintik-bintik merah yang kemudian mengandung cairan.

2. Etiologi
Virus Varicella Zoster, termasuk Famili Herpes Virus.

3. Patofisiologi
Menyebar Hematogen.
Virus Varicella Zoster juga menginfeksi sel satelit di sekitar Neuron pada ganglion akar dorsal Sumsum Tulang Belakang. Dari sini virus bisa kembali menimbulkan gejala dalam bentuk Herpes Zoster.
Sekitar 250 – 500 benjolan akan timbul menyebar diseluruh bagian tubuh, tidak terkecuali pada muka, kulit kepala, mulut bagian dalam, mata , termasuk bagian tubuh yang paling intim. Namun dalam waktu kurang dari seminggu , lesi teresebut akan mengering dan bersamaan dengan itu terasa gatal. Dalam waktu 1 – 3 minggu bekas pada kulit yang mengering akan terlepas.
Virus Varicella Zoster penyebab penyakit cacar air ini berpindah dari satu orang ke orang lain melalui percikan ludah yang berasal dari batuk atau bersin penderita dan diterbangkan melalui udara atau kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi.
Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui paru-paru dan tersebar kebagian tubuh melalui kelenjar getah bening.
Setelah melewati periode 14 hari virus ini akan menyebar dengan pesatnya ke jaringan kulit. Memang sebaiknya penyakit ini dialami pada masa kanak-kanak dan pada kalau sudah dewasa. Sebab seringkali orang tua membiarkan anak-anaknya terkena cacar air lebih dini.
Varicella pada umumnya menyerang anak-anak ; dinegara-negara bermusin empat, 90% kasus varisela terjadi sebelum usia 15 tahun. Pada anak-anak , pada umumnya penyakit ini tidak begitu berat.
Namun di negara-negara tropis, seperti di Indonesia, lebih banyak remaja dan orang dewasa yang terserang Varisela. Lima puluh persen kasus varisela terjadi diatas usia 15 tahun. Dengan demikian semakin bertambahnya usia pada remaja dan dewasa, gejala varisela semakin bertambah berat.

4. Sign / Symtoms
- Diawali dengan gejala melemahnya kondisi tubuh.
- Pusing.
- Demam dan kadang – kadang diiringi batuk.
- Dalam 24 jam timbul bintik-bintik yang berkembang menjadi lesi (mirip kulit yang terangkat karena terbakar).
- Terakhir menjadi benjolan – benjolan kecil berisi cairan.
Sebelum munculnya erupsi pada kulit, penderita biasanya mengeluhkan adanya rasa tidak enak badan, lesu, tidak nafsu makan dan sakit kepala. Satu atau dua hari kemudian, muncul erupsi kulit yang khas.
Munculnya erupsi pada kulit diawali dengan bintik-bintik berwarna kemerahan (makula), yang kemudian berubah menjadi papula (penonjolan kecil pada kulit), papula kemudian berubah menjadi vesikel (gelembung kecil berisi cairan jernih) dan akhirnya cairan dalam gelembung tersebut menjadi keruh (pustula). Bila tidak terjadi infeksi, biasanya pustel akan mengering tanpa meninggalkan abses.

5. Komplikasi
Komplikasi Tersering secara umum :
a. Pnemonia
b. Kelainan ginjal.
c. Ensefalitis.
d. Meningitis.
Komplikasi yang langka :
a. Radang sumsum tulang.
b. Kegagalan hati.
c. Hepatitis.
d. Sindrom Reye.
Komplikasi yang biasa terjadi pada anak-anak hanya berupa infeksi varisela pada kulit, sedangkan pada orang dewasa kemungkinan terjadinya komplikasi berupa radang pari-paru atau pnemonia 10 – 25 lebih tinggi dari pada anak-anak..

6. Treatment
Karena umumnya bersifat ringan, kebanyakan penderita tidak memerlukan terapi khusus selain istirahat dan pemberian asupan cairan yang cukup. Yang justru sering menjadi masalah adalah rasa gatal yang menyertai erupsi. Bila tidak ditahan-tahan , jari kita tentu ingin segera menggaruknya. Masalahnya,bila sampai tergaruk hebat, dapat timbul jaringan parut pada bekas gelembung yang pecah. Tentu tidak menarik untuk dilihat.

• Umum
1. Isolasi untuk mencegah penularan.
2. Diet bergizi tinggi (Tinggi Kalori dan Protein).
3. Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat.
4. Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit, misalnya pemberian antiseptik pada air mandi.
5. Upayakan agar vesikel tidak pecah.
- Jangan menggaruk vesikel.
- Kuku jangan dibiarkan panjang.
- Bila hendak mengeringkan badan, cukup tepal-tepalkan handuk pda kulit, jangan digosok.
Farmakoterapi
1. Antivirus dan Asiklovir
Biasanya diberikan pada kasus-kasus yang berat, misalnya pada penderita leukemia atau penyakit-penyakit lain yang melemahkan daya tahan tubuh.
2. Antipiretik dan untuk menurunkan demam
- Parasetamol atau ibuprofen.
- Jangan berikan aspirin pda anak anda, pemakaian aspirin pada infeksi virus (termasuk virus varisela) telah dihubungkan dengan sebuah komplikasi fatal, yaitu Syndrom Reye.
3. Salep antibiotika = untuk mengobati ruam yang terinfeksi.
4. Antibiotika = bila terjadi komplikasi pnemonia atau infeksi bakteri pada kulit.
5. Dapat diberikan bedak atau losio pengurang gatal (misalnya losio kalamin).
Pencegahan :
1. Hindari kontak dengan penderita.
2. Tingkatkan daya tahan tubuh.
3. Imunoglobulin Varicella Zoster
- Dapat mencegah (atau setidaknya meringankan0 terjadinya cacar air. Bila diberikan dalam waktu maksimal 96 jam sesudah terpapar.
- Dianjurkan pula bagi bayi baru lahir yang ibunya menderita cacar iar beberapa saat sebelum atau sesudah melahirkan.


B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Data subjektif : pasien merasa lemas, tidak enak badan, tidak nafsu makan dan sakit kepala.
Data Objektif :
a. Integumen : kulit hangat, pucat.
adanya bintik-bintik kemerahan pda kulit yang berisi cairan jernih.
b. Metabolik : peningkatan suhu tubuh.
c. Psikologis : menarik diri.
d. GI : anoreksia.
e. Penyuluhan / pembelajaran : tentang perawatan luka varicela.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit.
b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit.
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan kurangnya intake makanan.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit.
e. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.

3. Intervensi
1) Diagnosa 1
a. Tujuan : mencapai penyembuhan luka tepat waktu dan tidak demam.
b. Intervensi
- Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dnegan pasien.
Rasional : mencegah kontaminasi silang, menurunkan resiko infeksi.
- Gunakan skort, sarung tangan, masker dan teknik aseptic, selama perawatan kulit.
Rasional : mencegah masuknya organisme infeksius.
- Awasi atau batasi pengunjung bila perlu.
Rasional : mencegah kontaminasi silang dari pengunjung.
- Cukur atau ikat rambut di sekitar daerah yang terdapat erupsi.
Rasional : rambut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
- Bersihkan jaringan nekrotik / yang lepas (termasuk pecahnya lepuh)
Rasional : meningkatkan penyembuhan.
- Awasi tanda vital
Rasional : Indikator terjadinya infeksi.

2) Diagnosa 2
a. Tujuan : mencapai penyembuhan tepat waktu dan adanya regenerasi jaringan.
b. Intervensi
- Pertahankan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
Rasional : mengetahui keadaan integritas kulit.
- Berikan perawatan kulit
Rasional : menghindari gangguan integritas kulit.


3) Diagnosa 3
a. Tujuan : terpenuhinya kebutuhan nitrisi sesuai dengan kebutuhan.
b. Intervensi
- Berikan makanan sedikit tapi sering.
Rasional : membantu mencegah distensi gaster/ ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukan.
- Pastikan makanan yang disukai/tidak disukai. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah yang tepat.
Rasional : meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan.

4) Diagnosa 4
a. Tujuan : pasien dapat menerima keadaan tubuhnya.
b. Intervensi
- Bantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini.
Rasional : memanfaatkan kemampuan dapat menutupi kekurangan.
- Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan.
Rasional : memfasilitasi dengan memanfaatkan keletihan.

5) Diagnosa 5
a. Tujuan : adanya pemahaman kondisi dan kebutuhan pengobatan.
b. Intervensi
- Diskusikan perawatan erupsi pada kulit.
Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri dan menngkatkan kemandirian.

4. Implementasi
1) Diagnosa 1
a. Menekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dengan pasien.
b. Menggunakan skort,masker, sarung tangan dan teknik aseptik selama perawatan luka.
c. Mengawasi atau membatasi pengunjung bila perlu.
d. Mencukur atau mengikat rambut disekitar daerah yang terdapat erupsi.
e. Membersihkan jaringan mefrotik.yang lepas (termasuk pecahnya lepuh).
f. Mengawasi tanda vital.

2) Diagnosa 2
a. Memperhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
b. Memberikan perawatan kulit.

3). Diagnosa 3
a. Memberikan makanan sedikit tapi sering.
b. Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai , dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah yang tepat.

4) Diagnosa 4
a. Membantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini.
b. Mengeksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan.

5) Diagnosa 5
a. Mendiskusikan perawatan erupsi pada kulit.

5. Evaluasi
Evaluasi disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam intervensi.


DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn. E,.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.EGC : Jakarta.

Tarwoto dan Wartonah. (2000). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
Varisela . http://www.aventispasteur.co.id/news.asp?id7
Varisela Klinikku. http://www.klinikku.com/pustaka/medis/integ/varisela-klinis.html
Cacar Air. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk_php?id=&iddtl


Asuhan Keperawatan Urolithiasis

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN UROLITHIASIS


Pengertian
Urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam velvis ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Urine berwarna keruh seperti teh atau merah.

Faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan batu
a. Faktor Endogen
Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria.

b. Faktor Eksogen
Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.

c. Faktor lain
a) Infeksi
Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan Batu Saluran Kencing (BSK) Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH Urine menjadi alkali.

b) Stasis dan Obstruksi Urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah Infeksi Saluran Kencing.

c) Jenis Kelamin
Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan 3 : 1

d) Ras
Batu Saluran Kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.

e) Keturunan
Anggota keluarga Batu Saluran Kencing lebih banyak mempunyai kesempatan

f) Air Minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat.

g) Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk.

h) Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringan.

i) Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas Batu Saluran Kencing berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita Batu Saluran Kencing (buli-buli dan Urethra).

Patogenesis
Sebagian besar Batu Saluran Kencing adalah idiopatik, bersifat simptomatik ataupun asimptomatik.

Teori Terbentuknya Batu
a. Teori Intimatriks
Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik Sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.
b. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori Presipitasi-Kristalisasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat.
d. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat
Berkurangnya Faktor Penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya Batu Saluran Kencing.

PENGKAJIAN DATA DASAR
1. Riwayat atau adanya faktor resiko
a. Perubahan metabolik atau diet
b. Imobilitas lama
c. Masukan cairan tak adekuat
d. Riwayat batu atau Infeksi Saluran Kencing sebelumnya
e. Riwayat keluarga dengan pembentukan batu

2. Pemeriksaan fisik berdasarka pada survei umum dapat menunjukkan :
a. Nyeri. Batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan. Batu ureteral menyebabkan nyeri jenis kolik berat dan hilang timbul yang berkurang setelah batu lewat.
b. Mual dan muntah serta kemungkinan diare
c. Perubahan warna urine atau pola berkemih, Sebagai contoh, urine keruh dan bau menyengat bila infeksi terjadi, dorongan berkemih dengan nyeri dan penurunan haluaran urine bila masukan cairan tak adekuat atau bila terdapat obstruksi saluran perkemihan dan hematuri bila terdapat kerusakan jaringan ginjal

3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Urinalisa : warna : normal kekuning-kuningan, abnormal merah menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 – 6,8 (rata-rata 6,0), asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5 – 20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. BUN menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
b. Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
d. Foto Rontgen : menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang uriter.
e. IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
f. Sistoureteroskopi : visualisasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan batu atau efek ebstruksi.
g. USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu.

Penatalaksanaan
a. Menghilangkan Obstruksi
b. Mengobati Infeksi
c. Menghilangkan rasa nyeri
d. Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi.
Komplikasi
a. Obstruksi Ginjal
b. Perdarahan
c. Infeksi
d. Hidronefrosis

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra.
3. Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan.
4. Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi.


II. PERENCANAAN TINDAKAN PERAWATAN

TGL DIAGNOSA KEPERAWATAN/DATA PENUNJANG TUJUAN/KRITERIA RENCANA TINDAKAN RASIONAL NAMA PERAWAT / MAHASISWA
1 April 2002 Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal
Data Penunjang :
- Kolik yang berlebihan
- Lemes, mual, muntah, keringat dingin
- Pasien gelisah Tujuan :
Rasa sakit dapat diatasi/hilang
Kriteria :
- Kolik berkurang/hilang
- Pasien tidak mengeluh nyeri
- Dapat beristirahat dengan tenang - Kaji intensitas, lokasi dan tempat/area serta penjalaran dari nyeri.


- Observasi adanya abdominal pain

- Kaji adanya keringat dingin, tidak dapat istirahat dan ekspresi wajah.
- Jelaskan kepada pasien penyebab dari rasa sakit/nyeri pada daerah pinggang tersebut.
- Anjurkan pasien banyak minum air putih 3 – 4 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi.
- Berikan posisi dan lingkungan yang tenang dan nyaman.
- Ajarkan teknik relaksasi, teknik distorsi serta guide imagine
- Kolaborasi dengan tim dokter :
• Pemberian Cairan Intra Vena


• Pemberian obat-obatan Analgetic, Narkotic atau Anti Spasmodic.


- Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian obat-obat Narkotic, Analgetic dan Anti Spasmodic. - Peningkatan nyeri adalah indikatif dari obstruksi, sedangkan nyeri yang hilang tiba-tiba menunjukkan batu bergerak. Nyeri dapat menyebabkan shock.
- Kemungkinan adanya penyakit/komplikasi lain.
- Kemungkinan salah satu tanda shock

- Memberikan informasi tentang penyebab dari rasa sakit/nyeri pada daerah pinggang tersebut.
- Cairan membantu membesihkan ginjal dandapat mengeluarkan batu kecil.

- Untuk mengurangi sumber stressor

- Untuk mengurangi/menghilang kan nyeri tanpa obat-obatan

• Untuk memudahkan pemberian obat serta pemenuhan cairan bila mual, muntah dan keringat dingin terjadi.
• Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri/kolik yang berlebihan

- Untuk mengetahui efek samping yang tidak diharapkan dari pemberian obat-obatan tersebut.


2 April 2002. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra.
Data Penunjang :
Urine out put  30 cc per jam
Daerah perifer dingin pucat
TD  100/70 mmHg,
HR > 120 X/mt,
RR > 28 X/mt.
Pengisian kapiler > 3 detik Tujuan :
Gangguan perfusi dapat diatasi
Kriteria :
- Produksi urine 30 – 50 cc perjam.
- Perifer hangat
- Tanda-tanda vital dalam batas normal :
• Sistolik 100 – 140 mmHg.
• Diastolik 70 – 90 mmHg.
• Nadi 60 – 100 X/mt
• Pernafasan 16 – 24 X/mt
- Pengisian kapiler  3 detik - Observasi tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah dan pernafasan).
- Observasi Produksi urine setiap jam.

- Observasi perubahan tingkat kesadaran.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan:
• Pemeriksaan laboratorium : kadar ureum/kreatinin, Hb, urine HCT.
• Pemberian diet rendah protein, rendah kalsium dan posfat
• Pemberian ammonium chloride dan mandelamine. - Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
- Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
- Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
• Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
• Untuk mencegah/ mengurangi masalah
• Untuk mencegah/ mengurangi masalah

















S u b h a n

3 April 2002. Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan.
Data Penunjang :
- Ekspresi wajah tegang, gelisah, tidak bisa tidur.
- Tidak kooperatif dalam pengobatan.
- HR = 125 X/mt Tujuan :
Rasa cemas dapat diatasi/berkurang.
Kriteria :
- Pasien dapat nenyatakan kecemasan yang dirasakan.
- Pasien dapat beristirahat dengan tenang.
- Nadi dalam batas normal.
- Ekspresi wajah ceria/rileks. - Berikan dorongan terhadap tiap-tiap proses kehilangan status kesehatan yang timbul.
- Berikan privacy dan lingkungan yang nyaman.
- Batasi staf perawat/petugas kesehatan yang menangani pasien.
- Observasi bahasa non verbal dan bahasa verbal dari gejala-gejala kecemasan.
- Temani pasien bila gejala-gejala kecemasan timbul.
- Berikan kesempatan bagi pasien untuk mengekspresikan perasaannya .

- Hindari konfrontasi dengan pasien.
- Berikan informasi tentang program pengobatan dan hal-hal lain yang mencemaskan pasien.
- Lakukan intervensi keperawatan dengan hati-hati dan lakukan komunikasi terapeutik.
- Anjurkan pasien istirahat sesuai dengan yang diprogramkan.
- Berikan dorongan pada pasien bila sudah dapat merawat diri sendiri untuk meningkatkan harga dirinya sesuai dengan kondisi penyakit.
- Hargai setiap pendapat dan keputusan pasien. - Untuk mengurangi rasa cemas


- privacy dan lingkungan yang nyaman dapat mengurangi rasa cemas.
- Untuk dapat lebih memberikan ketenangan.
- Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
- Untuk mengurangi rasa cemas

- Kemampuan pemecahan masalah pasien meningkat bila lingkungan nyaman dan mendukung diberikan.
- Untuk mengurangi ketegangan pasien
- Informasi yang diberikan dapat membantu mengurangi kecemasan/ansietas
- Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan

- Untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan pasien
- Untuk mengurangi ketergantungan pasien


- Untuk meningkatkan harga diri pasien.



























S u b h a n

4 April 2002. Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi.
Data Penunjang :
- Pasien menyatakan belum memahami tentang penyakitnya.
- Pasien bertanya-tanya tentang proses penyakit dan pengobatan.
- Pasien kurang kooperatif dalam program pengobatan Tujuan :
Pengetahuan pasien tentang penyakitnya meningkat
Kriteria
- Pasien dapat menjelaskan kembali tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik.
- Pasien tidak bertanya lagi tentang keadaan penyakit dan program pengobatannya.
- Pasien kooperatif dalam program pengobatan. - Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit dan pengobatannya.
- Berikan penjelasan tentang penyakit, tujuan pengobatan dan program pengobatan.
- Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengekspresikan perasaannya dan mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum dipahami.
- Diskusikan pentingnya banyak minum air putih 3 – 4 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi.

- Diskusikan tentang pentingnya diet rendah protein, rendah kalsium dan posfat.
- Batasi aktifitas fisik yang berat. - Pengetahuan membantu mengembangkan kepatuhan pasien dan keluarga terhadap rencana terapeutik
- Untuk menambah pengetahuan pasien


- Meningkatkan kemampuan pasien untuk memecahkan masalah



- Untuk menambah pengetahuan pasien bahwa cairan dapat membantu pembersihan ginjal dan dapat mengeluargan batu kecil
- Untuk menambah pengetahuan pasien dan mencegah kekambuhan

- Untuk mencegah kekambuhan

















S u b h a n



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

Asuhan Keperawatan Asma Bronchiale

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
ASMA BRONCHIALE

A. Konsep Medis
1. PENGERTIAN
Asma bronchiale adalah penyakit dari system pernafasan yang meliputi dari jalan nafas dan gejala-gejala bronkospasme yang bersifat reversible (Antony C, 1997).
Asma bronkhiale adalah mengi berulang-ulang/ batuk bersistem dalam keadaan di mana asma yang paling mungkin. (Arief Mansjoer dkk, 2000).
Asma bronkhiale adalah suatu sindrom obstruksi jalan nafas yang berulang yang ditandai kontraksi otot polos, hypereksi mucus dan inflamasi. (Buyton, 1994).

2. ETIOLOGI
a. Imunologik atau alergik atau autopik.
Dalam bentuk ekstrinsik antigen berupa suatu bahan yang dapat berbentuk:
1) Inhalen yang masuk dalam bahan dengan melalui alat pernafasan misalnya debu rumah, bahan-bahan yang terlepas (sepih kulit) dari binatang misalnya anjing, kucing, kuda dan sebagainya.
2) Ingestan yang masuk dalam tubuh melalui mulut, biasanya berupa makanan seperti susu, telur, ikan-ikanan, obat-obatan dan lain sebagainya.
3) Kontaktan yang masuk dalam tubuh dengan jalan kontak dengan kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep, berbagai logam dalam bentuk perhiasan, jam tangan dan lain sebagainya.
b. Non imunologik atau non alergik atau non autopik
Seringkali dicetuskan oleh infeksi pada serangan.

3. PATOFISIOLOGI
Zat oksigen masuk dalam tubuh melalui pernafasan, mulut dan kontak kulit. Dari jenis allergen yang masuk dalam tubuh, bila pada orang yang tidak atopik tidak akan menyebabkan apa-apa. Bila jenis allergen masuk dalam tubuh orang yang mempunyai factor keturunan untuk bereaksi terhadap bahan allergen akan menyebabkan alergik.
Akibat reaksi dari tubuh untuk melepaskan zat histamine menyebabkan reaksi kontraksi otot-otot polos saluran pernafasan sehingga terjadi broncospasme. Broncospasme akan timbul kerusakan dinding bronkus yang akan mengakibatkan kualitas otot polos bronkus dapat ditembus oleh cairan atau zat dalam larutan yang dapat meningkatkan permeabilitas kapiler yang berperan terjadinya edema mukosa.
Dari edema mukosa akan menimbulkan peningkatan sekresi kelenjar mukosa dan peningkatan produksi sputum sebagai akibatnya akan terjadi penyempitan saluran pernafasan kemudian menghambat saluran pernafasan. Hambatan aliran pernafasan ini menyebabkan distribusi ventilasi yang tidak rata dengan sirkulasi darah paru sehingga mengganggu difusi gas di tingkat alveoli. Bila hal ini berlanjut akan terjadi hipoksemia. Proses tersebut pada penderita asma bronkhiale sering akan terjadi ketidakmampuan tentang penyakitnya.
Karena hambatan aliran nafas yang menyebabkan gangguan aliran udara terjadi hipoventilasi karena hipersekresi sputum yang tertahan sehingga menyebabkan jalan nafas tidak efektif di mana gejala dan tanda yang muncul pada penderita asma bronkhiale terjadi sesak nafas, bunyi nafas tidak normal (wheezing), batuk yang menerus dan semakin lama terjadinya serangan akan mengakibatkan kurangnya tenaga atau kelemahan, serta tidak nafsu makan, dalam kondisi demikian akan menyebabkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, gangguan pemenuhan istirahat tidur, intoleransi aktivitas dan mengalami penurunan perawatan diri sendiri. Dari proses seringnya kekambuhan atau serangan asma bronchial didukung ketidaktahuan tentang proses penyakitnya akan berpotensial infeksi.

4. MANIFESTASI KLINIK
Gangguan klinik: tachicardi, tachipnea, mengi, pernafasan pendek, rasa sesek di dada, serangan biasanya menghilang dalam waktu 30-60 menit, sputum dalam bentuk kental dan jumlah banyak, diaphoresis, kelelahan terjadi setelah serangan. Kontraksi yang kaku dari bronkiolus, penurunan kecepatan ekspirasi, batuk pada malam hari berlangsung 10-14 hari.




















5. PATHWAYS
Zat alergen masuk ke dalam
Tubuh melalui pernafasan mulut
Dan kontak kulit

Reaksi tubuh terhadap allergen

Tubuh tidak tahan reaksi alergik tubuh tahan/tidak alergik

Kontraksi otot polos pernafasan

Bronchospasme

Hypersekresi

Penyempitan saluran pernafasan

Hambatan aliran pernafasan
gangguan ventilasi (hipoventilasi)
Distribusi ventilasi yang tidak
Rata dengan sirkulasi paru jalan nafas tidak efektif

Gangguan difusi gas penurunan sirkulasi darah, dispnea,
Di tingkat alveoli Wheezing, kelemahan dan anoreksia

Hipoksemia perubahan intoleransi
nutrisi kurang dari aktivitas
Ketidaktahuan Kebutuhan tubuh
Tentang penyakit

Potensial infeksi deficit perawatan diri
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium
 Gas-gas darah arteri
Pa O2 dan Pa CO2 sedikit menurun, umum terjadi di antara serangan hebat.
 Pemeriksaan sinar X dada
 Hiperinflamasi pada serangan
 Tes kulit
 Tes fungsi pulmoner
o Volume paru-paru normal atau meningkat
o Penurunan kecepatan aliran, dengan bronkodilator
 Pemeriksaan SDP dan sputum
Eosinofilia darah dan sputum umum ditemukan kadar 1% E serum meningkat pada asma ekstrinsik.
 Edema pulmoner
 Gagal pernafasan.

7. PENATALAKSANAAN MEDIS
 Terapi O2 dengan humidifikasi
 Penatalaksanaan cairan
 Jalan nafas buatan dan ventilator
Bila diperlukan:
 Obat-obatan
 Bronkodilator: parental, aerosol, oral
 Simpatominetik
 Teofilin
 Steroid
 Antibiotic

B. Konsep Keperawatan
1. PENGKAJIAN
Proses pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data tentang pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah kesehatan dan keperawatan pasien. (Effendy, 1995: 10).
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah:
a. aktifitas/istirahat
gejala : keletihan, kelelahan, malaise.
Ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas sehari-hari karena sulit bernafas.
Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi.
Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktifitas atau latihan.
Tanda : keletihan, gelisah, insomnia.

b. Sirkulasi
Gejala : pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda : peningkatan tekanan darah
Peningkatan frekuensi jantung
Distensi vena leher
Sianosis: area sirkumolar dasar kuku
Pucat dapat menunjukkan anemia.
c. integritas ego
gejala : peningkatan factor risiko
perubahan pola hidup
tanda : ansietas, ketakutan, peka rangsang.
d. makanan/cairan
gejala : mual/muntah
ketidakmampuan untuk makan karena distress
tanda : diaforesis
penurunan berat badan.
e. Hygiene
Gejala : penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktifitas sehari-hari
Tanda : kebersihan buruk
f. Pernafasan
Gejala : nafas pendek
Tanda : awitan distress pernafasan tiba-tiba
o Perpanjangan ekspirasi mengi
o Perpendekan periode inspirasi
o Retraksi interkostal sternal
o Penggunaan otot-otot eksesorik pernafasan
o Sesak nafas
o Klekels
Bunyi nafas
o Mengi, penurunan nafas sampai bunyi nafas tidak terdengar.
g. Keamanan
Gejala : riwayat reaksi alergi
Kemerahan (diaforesis)
h. Seksualitas
Gejala : penurunan libido
i. interaksi social
gejala : hubungan ketergantungan
kurang sistem pendukung
penyakit lama/ketidakmampuan membaik
tanda : ketidakmampuan untuk membuat/mempertahankan suara karena distress pernafasan
keterbatasan mobilitas fisik.
j. penyuluhan/pembelajaran
gejala : penyalahgunaan obat pernafasan
kesulitan menghentikan merokok
penggunaan alcohol
kegagalan untuk membaik

2. FOKUS INTERVENSI
Diagnosa keperawatan I : kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan factor serangan asma menetap.
Batasan karakteristik : mengi dan dispnea yang berat, sianosis dan penggunaan obat asesori pernafasan.
Hasil pasien : mendemonstrasikan perbaikan ventilasi.
Criteria evaluasi : frekuensi nafas 12-24/menit, bunyi nafas bersih, frekuensi nadi 60-100/menit, warna kulit normal, tidak ada dispnea, GDA dalam batas normal.
NO. Intervensi Rasional
1.


9. Pantau
- status pernafasan (apendiks A) setiap 4 jam
- hasil keadaan teofilin serum
- hasil GDA
- nadi oksimetri
- hasil sinar X dada, fungsi paru dan analisa sputum
- masukan dan haluaran
tempatkan pasien pada posisi fowler’s

mulailah pemberian terapi IV sesuai anjuran. Lakukan perawatan infus.





Berikan oksigen melalui kanul nasal 4 liter/menit selanjutnya sesuaikan dengan hasil PaO2.
Berikan pengobatan yang telah ditentukan, seperti epinefrin, terbutelin, aminopilin, dan kortikosteroid.
Evaluasi keefektifannya, konsul dokter jika terjadi reaksi yang merugikan. Teliti kembali semua pengobatan yang telah ditentukan jika interaki antara obat merugikan. Lihat referensi farmakologi dan konsul kepada ahli farmasi.
Laksanakan pengobatan dan konsul dokter bila tanda-tanda toksisetas teofilin terjadi (mual, muntah, distensi abnormal, teofilin serum di atas rencana normal).
Gunakan spirometer intensif setiap 2 jam.
Yakinkan bahwa pengobatan paru (fisioterapi, terapi aerosol) diberikan sesuai dengan yang telah ditentukan. Tentukan pengobatan aerosol tambahan bila kegawatan nafas terjadi antara interfal yang telah ditentukan.
Konsul dokter jika gejala-gejala terjadi setelah 1 jam pemberian terapi atau bila kondisi bertambah jelek (bila tercapainya keadaan di mana PaCO2 melebihi PaO2 apnea terjadi, status mental menurun atau pasien dalam keadaan hampir kolaps akibat kelelahan yang disebabkan usaha yang sulit bernafas). Untuk mengidentifikasi indikasi kearah kemajuan atau penyimpangan dari hasil pasien.






Posisi tegak memungkinkan ekspansi paru-paru lebih baik.
Untuk meningkatkan rehidrasi yang cepat dan dapat mengkaji keadaan vaskuler untuk pemberian obat-obatan darurat, kebanyakan pasien telah mengalami dehidrasi ketika mereka meminta pertolongan medis.
Pemberian O2 mengurangi beban kerja otot-otot pernafasan.

Epinefrin dan ebutalin menghentikan reaksi alergi dan adilatasi bronkiolus dengan meniadakan aktifitas histamine aminofilin melebarkan bronkiolus dengan merangsang peningkatan produksi zat kimia yang menghambat penyempitan otot bronchial. Kortikosteroid membantu mengurangi peradangan lapisan mukosa bronchial.
Dokter akan mengurangi dosis untuk memperbaiki toksisitas.



Untuk memudahkan nafas dalam dan mencegah atelektasis.
Tindakan ini mengurangi sekresi bronchial.




Hal-hal ini menunjukkan dibutuhkannya intubasi endotrakeal dan pemasangan ventilator mekanis.
Diagnosa keperawatan II : ansietas berhubungan dengan factor takut sulit bernafas disebabkan gagal nafas yang berat, kurang pengetahuan tentang rencana pengobatan dan pemeriksaan.
Batasan karakteristik : menyampaikan perasaan takut sulit bernafas, ketakutan, ekspresi wajah tegang, menyatakan kesulitan bernafas.
Hasil pasien : mendemonstrasikan ansietas berkurang.
Criteria evaluasi : ekspresi wajah tenang, pernafasan 12-24/ menit, rasa takut dan gugup berkurang.
NO. Intervensi Rasional
1.

Tetap berada di samping pasien atau minta seseorang untuk mendampinginya sampai gawat nafas mulai berkurang, pertahankan pendekatan yang tenang dan percaya diri.
Batasi pengunjung sampai batas nafas teratasi.
Gunakan penjelas yang mudah dan singkat bila memberikan informasi atau instruksi, contoh “duduk” nafas lambat dan dalam jelaskan dari tujuan semua pengobatan yang telah dilakukan. Berikan penjelasan pemeriksaan diagnostic
- tujuan
- gambaran singkat
- persiapan yang dibutuhkan
- perawatan sesudah pemeriksaan tersebut. Ansietas akan berkurang apabila pasien merasa ditangani oleh tim kesehatan yang kompeten.



Pengunjung dapat menjadi sumber stress.
Tingkat ansietas yang tinggi menghambat pembelajaran penjelasan tentang apa yang diharapkan membantu mengontrol ansietas.

Diagnosa keperawatan III : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan : dispnea, kelemahan, efek samping obat, produksi sputum, anoreksia, mual/muntah.
Kemungkinan dibuktikan : penurunan berat badan
Kehilangan massa otot, tonus otot buruk
Kelemahan
Mengeluh gangguan sensasi pengecap
Keengganan untuk makan.
Criteria hasil : menunjukkan peningkatan BB.
NO. Intervensi Rasional
1.


kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini, catat derajat kesulitan makan, evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
Auskultasi bunyi usus.





Berikan perawatan oral sering, buang secret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai.
Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan.



Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.


Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin
Timbang BB sesuai indikasi.

Konsul ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah cerna dan nutrisi seimbang.
Kaji pemeriksaan laboratorium, mis: albumin serum, transferin, dll. Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea.


Penurunan/inproaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan konstipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, penurunan aktifitas, hipoksemia.
Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap nafsu makan.
Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.
Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerakan diafragma, dan dapat meningkatkan dispnea.
Suhu ekstrim dapat mencetuskan spasme batuk.
Untuk menentukan kebutuhan kalori.
Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi/ kebutuhan individu.
Mengatasi kekurangan dan mengawasi keefektifan terapi nutrisi.

Asuhan Keperawatan Angina Pektoris

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
ANGINA PEKTORIS


A. PENGERTIAN
1. Angina pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversibel. (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993)
2. Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti. (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996)
3. Angina pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun Praktis Kardiovaskuler)

B. ETIOLOGI
1. Ateriosklerosis
2. Spasme arteri koroner
3. Anemia berat
4. Artritis
5. Aorta Insufisiensi

C. FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1. Dapat Diubah (dimodifikasi)
a. Diet (hiperlipidemia)
b. Rokok
c. Hipertensi
d. Stress
e. Obesitas
f. Kurang aktifitas
g. Diabetes Mellitus
h. Pemakaian kontrasepsi oral
2. Tidak dapat diubah
a. Usia
b. Jenis Kelamin
c. Ras
d. Herediter
e. Kepribadian tipe A

D. FAKTOR PENCETUS SERANGAN
Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain :
1. Emosi
2. Stress
3. Kerja fisik terlalu berat
4. Hawa terlalu panas dan lembab
5. Terlalu kenyang
6. Banyak merokok


E. GAMBARAN KLINIS
1. Nyeri dada substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan kiri.
2. Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort).
3. Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih daari 30 menit.
4. Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin.
5. Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin, palpitasi, dizzines.
6. Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T terbalik.
7. Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan.

F. TIPE SERANGAN
1. Angina Pektoris Stabil
Awitan secara klasik berkaitan dengan latihan atau aktifitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen niokard.
Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian aktifitas.
Durasi nyeri 3 – 15 menit.
2. Angina Pektoris Tidak Stabil
Sifat, tempat dan penyebaran nyeri dada dapat mirip dengan angina pektoris stabil.
Adurasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pektoris stabil.
Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tigkat aktifitas ringan.
Kurang responsif terhadap nitrat.
Lebih sering ditemukan depresisegmen ST.
Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus, trombus atau trombosit yang beragregasi.
3. Angina Prinzmental (Angina Varian).
Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali pagi hari.
Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroneraterosklerotik.
EKG menunjukkan elevaasi segmen ST.
Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akut.
Dapat terjadi aritmia.

G. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAYS
Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan suply oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekauan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis. Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung. Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksid0 yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang. Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.



PATHWAYS ANGINA PEKTORIS


H. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

I. FOKUS INTERVENSI
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
Intervensi :
Kaji gambaran dan faktor-faktor yang memperburuk nyeri.
Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam pertama) dengan posisi semi fowler.
Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina.
Ciptakanlingkunan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.
Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.
Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.
Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
Kolaborasi pengobatan.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kurangnya curah jantung.
Intervensi :
Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman.
Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam pemenuhan aktifitas perawatan diri sesuai indikasi.
Catat warna kulit dan kualittas nadi.
Tingkatkan katifitas klien secara teratur.
Pantau EKG dengan sering.
3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
Intervensi :
Jelaskan semua prosedur tindakan.
Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.
Dorong keluarga dan teman utnuk menganggap klien seperti sebelumnya.
Beritahu klien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan/membatasi serangan akan datang dan meningkatkan stabilitas jantung.
Kolaborasi.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi :
Tekankan perlunya mencegah serangan angina.
Dorong untuk menghindari faktor/situasi yang sebagai pencetus episode angina.
Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, perubahan diet dan olah raga.
Tunjukkan/ dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama aktifitas, hindari tegangan.
Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina.
Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.


DAFTAR PUSTAKA


1. Corwin, Elizabeth, Buku Saku Patofisiologi, Jakarta, EGC, 2000.

2. Chung, EK, Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Jakarta, EGC, 1996

3. Doenges, Marylinn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC, 1998

4. Engram, Barbara, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume 2, Jakarta, EGC, 1998

5. Long, C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah 2, Bandung, IAPK, 1996

6. Noer, Sjaifoellah, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI, 1996

7. Price, Sylvia Anderson, Patofisiologi Buku I Jakarta, EGC, 1994

8. ……., Dasar-dasar Keperawatan Kardiotorasik (Kumpulan Bahan Kuliah edisi ketiga),Jakarta : RS Jantung Harapan Kita, 1993.

9. Tucker, Susan Martin, Standar Perawatan Pasien Volume I, Jakarta, EGC, 1998

10. Underwood, J C E, Pathologi Volume 1 , Jakarta, EGC, 1999

Selasa, 21 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus, DM

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELLITUS


A. Konsep Medis
1. Pengertian
a. Pengertian diabetes melitus
Diabetes Melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis, termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat.
(Price, S.A., 1995, hal: 1111)
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, A, 1999, hal: 580).
Diabetes Melitus(DM) adalah masalah yang mengancam hidup (kasus darurat) yang disebabkan oleh defisiensi insulin relatif atau absolut. (Doenges, 2000, hal: 726).
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronik yang komplek yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak, berkembangnya komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Long, B.C, 1996, hal: 4).
Berdasarkan beberapa pengertian Diabetes Melitus diatas maka penulis menyimpulkan penyakit Diabetes Melitus adalah penyakit degeneratif dan merupakan suatu penyakit yang komplek yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat,protein, dan lemak serta dapat mengancam hidup dan disebabkan oleh defisiensi insulin karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah.
1) Diabetes Melitus Tipe I (Insulin Dependent Diabetes Melitus, IDDM)
Defisiensi insulin karena tidak terdapatnya sel-sel langerhans, biasanya berhubungan dengan tipe HLA spesifik, keadaan defisiensi insulin ini biasanya dikatakan absolut karena ketergantungan yang sepenuhnya pada insulin-eksogen. Penderita IDDM cenderung memiliki keadaan intoleransi glukosa yang lebih berat dan tidak stabil. IDDM lebih kas/cenderung terjadi pada semua usia, umumnya usia muda.
2) Diabetes Melitus Tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus, NIDDM)
Karena suplai insulin berkurang atau tidak cukup efektif sebagaimana mestinya tingkat gula darah naik lebih lamban. Tidak banyak protein dan lemak yang dihancurkan, hingga produksi keton pun tidak banyak, dan rendahnya resiko terkena ketoasidosis koma. Kebanyakan yang menderita diabetes tipe 2 adalah wanita dari pada pria, mungkin karena diabetes munculnya di usia yang lebih lanjut dan wanita umumnya hidup lebih lama (Bilous, R.W., 1999, hal: 12)
3) Diabetes Melitus Sekunder (diabetes yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu)
Diabetes yang terjadi karena akibat kerusakan pada pankreas yang menyebabkan sebagian besar kelenjar rusak (Bilous, RW., 1999, hal: 14)
4) Diabetes Melitus yang berhubungan dengan Malnutrisi
Masih terdapat dua kategori lain yaitu abnormalitas metabolisme glukosa yaitu:
a) Kerusakan Toleransi Glukosa (KTG)
Konsentrasi glukosa antara normal dan Diabetes Melitus dapat menjadi normal atau tetap tidak bertambah, bahkan dapat melebihi nilai konsentrasi tersebut.
b) Diabetes Melitus Gestasional (DMG)
Diabetes yang terjadi pada saat kehamilan adalah intoleransi glukosa yang mulai timbul atau menular diketahui selama keadaan hamil, karena terjadi peningkatan sekresi berbagai hormon di sertai pengaruh metabolik terhadap glukosa (Price dan Wilson, 1995, hal: 1112).
2. Etiologi
Corwin (2000, hal: 543) menyatakan etiologi/penyebab Diabetes Melitus tergantung dari tiap-tiap tipenya.


a. Tipe I: Insulin Dependent Diabetes Melitus, IDDM
IDDM adalah penyakit hiperglikemia akibat ketidakabsolutan insulin, pengidap penyakit itu harus mendapat insulin pengganti. IDDM disebabkan oleh destruksi auto imun, sel-sel beta pulau langherhans dan terdapat kecenderungan pengaruh genetik.
Diabetes tipe I biasanya dijumpai pada orang yang tidak gemuk berusia kurang dari 30 tahun.
b. Tipe II Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
NIDDM disebabkan oleh kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangkum pengambilan glukosa oleh gangguan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya. Kefosis resisten lebih sering pada orang dewasa, tapi dapat juga terjadi pada semua umur, kebanyakan penderita kelebihan berat badan, ada kecenderungan familial, mungkin perlu insulin pada saat hiperglikemik selama stress (Long, BC, hal: 6).
Diabetes Melitus Sekunder (diabetes yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu)
Hiperglikemik terjadi karena penganut lain seperti: kerusakan pankreas, obat-obatan kimia, kelainan insulin, sindrom genetik tertentu (Long, BC, hal : 6)

c. Diabetes Melitus yang berhubungan dengan malnutrisi
1) Kerusakan toleransi glukosa (KTG)
Konsentrasi glukosa antara normal dan Diabetes Melitus dan dapat menjadi normal atau tetap tidak berubah bahkan dapat melebihi nilai konsentrasi tersebut.
2) Diabetes Melitus gastosional (DMG)
Diabetes yang terjadi pada saat kehamilan ini adalah intoleransi glukosa yang mulai timbul atau menular diketahui selama keadaan hamil, karena terjadi peningkatan sekresi berbagai hormon di sertai pengaruh metabolik terhadap glukosa, maka kehamilan merupakan keadaan peningkatan metabolik tubuh (Price dan Wilson, 1995, hal: 1112).
3. Patofisiologi
Pasien-pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa yang normal, atau toleransi glukosa sesudah makan karbohidrat, jika hiperglikemianya parah dan melebihi ambang ginjal, maka timbul glukosoria. Glukosoria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan mengeluarkan kemih (poliuria) harus testimulasi, akibatnya pasien akan minum dalam jumlah banyak karena glukosa hilang bersama kemih, maka pasien mengalami keseimbangan kalori negatif dan berat badan berkurang. Rasa lapar yang semakin besar (polifagia) timbul sebagai akibat kehilangan kalori (Price and Wilson, 1995, hal: 1114).
Diabetes Melitus tipe I dapat terjadi secara akut maupun kronis. Komplikasi akut Diabetes Melitus adalah ketoasidosis diabetes dan non asidotik hiperosmolar. Pada ketoasidosis diabetes, kadar glukosa darah meningkat secara cepat akibat glukoneogenesis dan peningkatan penilaian lemak yang progresif, maka timbul poliurea dan dehidrasi. Kadar keton juga meningkat (ketosis). Keton keluar melalui urine (ketouria). Pada ketosis, pH menurun dibawah 7,3 dan menyebabkan asidosis metabolik dan merangsang hiperventilasi.
Pada diabetes tipe II komplikasi akut yang terjadi adalah non asidotik hiperosmolar, dimana pasien mengalami hiperglikemia berat dengan kadar glukosa darah lebih dari 300 mg per 100 ml. Hal ini menyebabkan osmolalitas plasma meningkat dan berakibat poliuria sehingga menimbulkan rasa haus yang hebat, deficit kalium yang parah sehingga mengakibatkan terjadinya koma dan kematian (Corwin, 2000, hal : 549).
Penderita diabetes lebih mudah terkena infeksi. Efeksivitas kulit sehingga pertahanan tubuh pertama berkurang. Diabetes yang telah terkontrol menyebabkan defosit lemak di bawah kulit berkurang, hilangnya glikogen dan terjadinya katabolisme protein tubuh. Kehilangan protein yang menghambat proses peradangan dan penyembuhan luka. Disamping itu fungsi leukosit, yang semuanya terlibat dalam upaya tubuh untuk mengatasi infeksi, gagal. Menurunnya sirkulasi darah terhadap bagian yang terinfeksi juga memperlambat penyembuhan (Long, B.C, 1996, hal: 49).

4. Tanda dan gejala
Adanya penyakit diabetes ini pada awalnya seringkali tidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita, beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat perhatian adalah:
a. Keluhan klasik
1) Banyak Kencing (Poliuria)
Karena sifatnya, kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan banyak kencing. Kencing yang sering dan dalam jumlah banyak akan sangat mengganggu penderita, terutama pada waktu malam hari.
2) Banyak minum (polidipsia)
Rasa haus amat sering dialami penderita karena banyaknya cairan yang keluar melalui kencing. Keadaan ini justru sering disalahtafsirkan. Dikiranya sebab rasa haus ialah udara yang panas atau beban kerja yang berat. Untuk menghilangkan rasa haus itu penderita banyak minum.
3) Banyak makan (polifagia)
Rasa lapar yang semakin besar sering timbul pada penderita Diabetes Melitus karena pasien mengalami keseimbangan kalori negatif, sehingga timbul rasa lapar yang sangat besar. Untuk menghilangkan rasa lapar itu penderita banyak makan.


4) Penurunan berat badan dan rasa lemah
Penurunan berat badan yang berlangsung dalam relatif singkat harus menimbulkan kecurigaan. Rasa lemah yang hebat yang menyebabkan penurunan prestasi dan lapangan olahraga juga mencolok. Hal ini disebabkan glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan hidup, sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot. Akibatnya penderita kehilangan jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.
b. Keluhan lain
1) Gangguan saraf tepi/kesemutan
Penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di waktu malam hari, sehingga menggangu tidur.
2) Gangguan penglihatan
Pada fase awal diabetes sering dijumpai gangguan penglihatan yang mendorong penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali agar tetap dapat melihat dengan baik.
3) Gatal/bisul
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan dan daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah payudara. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhnya. Luka ini dapat timbul karena akibat hal yang sepele seperti luka lecet karena sepatu atau tertusuk peniti.
4) Gangguan ereksi
Gangguan ereksi ini menjadi masalah, tersembunyi karena sering tidak secara terus terang dikemukakan penderitanya. Hal ini terkait dengan budaya masyarakat yang masih merasa tabu membicarakan masalah seks, apalagi menyangkut kemampuan atau kejantanan seseorang.
5) Keputihan
Pada wanita, keputihan dan gatal merupakan keluhan yang sering ditemukan dan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan.
5. Penatalaksanaan
Soegondo S, dkk (2004, hal: 257) menyatakan penatalaksanaan diabetes sering dikaitkan dengan perencanaan makan, latihan jasmani dan obat-obatan penurun gula darah.
a. Perencanaan makan
1) Makan makanan yang beraneka ragam yang bisa menjamin terpenuhinya kecakupan sumber zat teaga, zat pembangun dan zat pengatur.
a) Sumber zat tenaga
Sumber zat tenaga antara lain : beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi.
Makanan sumber zat tenaga sangat penting menunjang aktivitas sehari-hari.
b) Sumber zat pembangun
- Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu.
- Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari hewani adalah telur, ikan, ayam, daging dan susu.
Zat pembangun berperan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.
c) Sumber zat pengatur
Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral yang sangat berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.
2) Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
Kebutuhan energi penyandang diabetes tergantung pada umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan dan kegiatan fisik, keadaan penyakit dan pengobatannya. Energi yang dibutuhkan dinyatakan dengan satuan kalori. Susunan makanan yang baik untuk penyandang diabetes mengandung jumlah kalor yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang. komposisi makanan tersebut adalah :
- 10 – 15% protein
- 20 – 25% lemak
- 60 – 70% karbohidrat
3) Makanlah makanan sumber karbohidrat, sebagian dan kebutuhan energi (pilihlah karbohidrat komplek dan serat, batasi karbohidrat sederhana)
a) Karbohidrat komplek atau tepung-tepungan
Makanan sumber karbohidrat kompleks adalah padi-padian (beras, jagung, gandum), umbi-umbian (singkong, ubi jalar, kentang), sagu.
b) Karbohidrat sederhana
Makanan sumber, karbohidrat sederhana adalah gula, sirup, cakes, dan selai, karbohidrat sederhana juga terdapat pada buah, sayuran dan susu bagi penderita diabetes anjuran konsumsi tidak lebih dari 5% total kalori (3 – 4 sendok) makan sehari.
c) Serat
Serat adalah bagian karbohidrat yang tak dapat dicerna. Serat banyak terdapat pada buah-buahan, sayuran, padi-padian dan produk sereal. Makanan cukup serat memberi keuntungan pada penderita diabetes karena serat :
- Perasaan kenyang dan puas yang membantu mengendalikan nafsu makan dan penurunan berat badan.
- Makanan tinggi serat biasanya rendah kalori.
- Membantu buang air besar secara teratur.
- Memperlambat penyerapan glukosa darah sehingga mempunyai pada penurunan glukosa darah.
- Menurunkan kadar lemak darah.
4) Batasi konsumsi lemak, minyak dan santan sampai seperempat kecukupan energi.
Penyandang diabetes mempunyai resiko tinggi untuk mendapatkan penyakit jantung dan pembuluh darah, oleh karena itu lemak dan kolesterol dalam makanan perlu dibatasi.
Untuk itu makanan jangan terlalu banyak yang digoreng, bila ingin mungkin tidak lebih dari satu lauk saja yang digoreng pada setiap kali makan untuk mereka-mereka yang tidak gemuk, selebihnya dapat dimasak dengan sedikit minyak misalnya seperti dipanggang, dikukus, direbus dan dibakar. Kurangi mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol seperti otak, kuning telur, ginjal, hati, daging berlemak, keju dan mentega.
5) Gunakan garam yang beryodium (gunakan garam secukupnya saja)
Penyandang diabetes yang mempunyai tekanan darah tinggi (hipertensi) sehingga perlu berhati-hati pada asupan natrium. Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan untuk penduduk biasa yaitu  3.000 mg/hari yaitu kira-kira 6 – 7 garam (1 sendok teh) yang digunakan.


6) Makanlah makanan sumber zat besi (Fe)
Untuk menghindari terjadi anemia yang banyak diderita oleh semua orang penyandang diabetes maka perlu mengkonsumsi cukup zat besi. Bahan makanan sumber zat besi antara lain sayuran berwarna hijau dan kacang-kacangan.
7) Biasakan makan pagi
Pada penyandang diabetes terutama yang menggunakan obat penurun glukosa darah ataupun suntikan insulin tidak makan pagi akan sangat beresiko karena bisa menyebabkan hipoglikemia (penurunan kadar gula darah).
8) Hindari minuman beralkohol
Kebiasaan minum minuman beralkohol dapat mengakibatkan terhambatnya proses penyerapan zat gizi, dan hilangnya zat gizi yang penting bagi tubuh.
b. Latihan Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar penatalaksanaan diabetes karena dapat menurunkan berat badan, meningkatkan kebugaran, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot.
Latihan jasmani harus dilakukan secara teratur dan sesuai dengan umur, jenis kelamin, pekerjaan dan kondisi kesehatan.



c. Obat-obatan penurun gula darah
Jenis tablet atau obat-obatan yang merangsang pankreas untuk melepaskan persediaan insulin, menaikkan tingkat insulin sehingga gula darah tetap rendah antara lain :
- Chlorpropamide lamanya kerja panjang
- Glibenclamide lamanya kerja sedang
- Gliclazide lamanya kerja sedang
- Gliquidone lamanya kerja sedang
- Tolazamide lamanya kerja sedang
- Tolbutamide lamanya kerja pendek
Obat jangka panjang tidak selalu cocok untuk orang tua dan orang yang gaya hidupnya sulit untuk makan secara teratur, karena adanya resiko hipoglikemia, selain perlu waspada terhadap resiko rendahnya gula darah, umumnya mereka yang minum tablet sulfonilurea sedikit mengalami efek samping yang serius. Keluhan yang mengganggu hanyalah wajah yang menjadi merah dan panas, yang jelas jika anda mulai minum tablet ini yang membuat tingkat gula darah turun (Bilous, R.W, 2002, hal : 30)

B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengertian
Masalah kesehatan adalah keadaan yang menghambat pemantapan kesehatan atau peningkatan kesehatan atau penyembuhan masalah kesehatan dapat menjadi masalah perawatan bila masalah tersebut dapat diperbaiki melalui tindakan perawatan. (Bailon dan Maglaya, hal: 45)
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah sutu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Effendy Cit. Depkes RI, 1998: 32).
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Effendy Cit Bailon dan Maglaya, 1998: 32)
Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat keperawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga, sebagai unit kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai sarana/penyalur. (Bailon dan Maglaya, 1989, hal : 38).
Asuhan keperawatan keluarga dengan Diabetes Melitus adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktek keperawatan pada anggota keluarga yang mengalami Diabetes Melitus.

Klasifikasi Diabetes Melitus
a. Tugas Perkembangan Keluarga
Menurut Friedman (1998: 13) tugas perkembangan keluarga meliputi:
1) Keluarga pemula
Membangun perkawinan yang saling memuaskan, menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis, keluarga berencana (keputusan tentang kedudukan sebagai orang tua).
2) Keluarga yang mengasuh anak
Membentuk keluarga pemula sebagai sebuah unit yang mantap, rekonsiliasi tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambah peran orang tua dan kakek nenek.
3) Keluarga dengan anak pra sekolah
Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain, privasi, keamanan, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak yang baru, sementara tetap memenuhi kebutuhan anak yang lain, mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga dan di luar keluarga.
4) Keluarga dengan anak usia sekolah
Mensosialisasikan anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan yang memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.
5) Keluarga dengan anak remaja
Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan semakin mandiri, memfokuskan kembali hubungan perkawinan, berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak.
6) Keluarga melepaskan anak dewasa muda
Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapatkan melalui perkawinan anak, melanjutkan untuk memperbarui dan menguraikan lagi hubungan perkawinan, membantu orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami maupun istri.
7) Orang tua usia pertengahan
Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan, mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arti dengan para orang tua lanjut usia dan anak, memperkokoh hubungan perkawinan.
8) Keluarga lanjut usia
Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan, menyesuaikan dengan pendapatan yang menurun, mempertahankan hubungan perkawinan, menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan, mempertahankan ikatan keluarga antar generasi, meneruskan untuk memahami eksistensi mereka.

b. Tugas Keluarga
Pada dasarnya menurut Friedman (1981) tugas-tugas keluarga dalam bidang kesehatan untuk dapat mencapai asuhan keperawatan keluarga dibagi menjadi 5 tugas meliputi:
1) Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggotanya.
2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat.
3) Memberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, dan yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda atau terlalu tua.
4) Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan, yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada.
2. Tahap proses keperawatan keluarga
a. Pengkajian
Adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengatur keadaan klien (keluarga) dengan mencapai norma kesehatan keluarga maupun sosial yang merupakan sistem terintegrasi dan kesanggupan keluarga untuk mengatasinya.
Yang termasuk dalam tahap ini meliputi:
1) Pengumpulan data
2) Analisis data
3) Perumusan masalah
4) Diagnosa keperawatan
5) Prioritas masalah
ad. 1) Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan melalui :
a) Wawancara
Adalah metode pengumpulan data melalui tanya jawab, meliputi aspek fisik, mental, sosial budaya, ekonomi, kebiasaan lingkungan.
b) Observasi/pengamatan
Adalah metode pengumpulan data dimana diperoleh melalui pengamatan panca indra atau pengamatan secara visual. Data yang diperoleh melalui observasi diantaranya yang berkaitan dengan lingkungan fisik, meliputi: ventilasi, penerangan, kebersihan.
c) Pemeriksaan fisik
Adalah metode pengumpulan data melalui teknik inspeksi, auskultasi dan perkusi pada anggota keluarga terutama anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan, meliputi: kehamilan, kelainan organ tubuh dan tanda penyakit.


d) Studi dokumentasi
Adalah mempelajari catatan dan tulisan yang berkaitan dengan klien diantaranya Kartu Menuju Sehat (KMS), kartu keluarga dan catatan-catatan kesehatan lainnya.
e) Studi literatur (studi pustaka)
Adalah metode pengumpulan data dengan mempelajari buku asuhan yang berkaitan dengan pasien/keluarga.
Data yang perlu dikumpulkan dalam pengkajian pada asuhan keperawatan keluarga adalah sebagai berikut:
(1) Identitas keluarga/biodata, terdiri dari:
- Biodata kepala keluarga
- Biodata klien
- Susunan keluarga
(2) Riwayat kesehatan klien
- Riwayat kesehatan sekarang: Bagaimana keadaan klien pada saat pengkajian.
- Riwayat kesehatan dahulu: Apakah klien pernah sakit seperti ini sebelumnya dan apakah keluarga ada yang sakit seperti ini.
(3) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah di dalam keluarga ada yang menderita penyakit menular atau penyakit keturunan.

(4) Jarak antara lokasi dan fasilitas kesehatan
Jarak antara lokasi dan fasilitas kesehatan yang meliputi: Jarak, cara atau alat transportasi yang digunakan, serta keadaan wilayah yang dapat mempengaruhi penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan.
(5) Keadaan fisik klien dan keluarga
Perlu dikaji untuk mengetahui keadaan kesehatan keluarga terutama keadaan kesehatan klien.
(6) Keadaan keluarga
- Psikologis
Data psikologis keluarga perlu dikaji untuk mengetahui keadaan emosi keluarga, cara pengambilan keputusan dan siapa yang paling berperan dalam pengambilan keputusan.
- Sosial ekonomi
Untuk mengetahui jenis pekerjaan kepala keluarga berapa penghasilan rata-rata pertahun/bulan, penggunaan keuangan. Apakah keluarga bisa menabung untuk memenuhi kebutuhan mendadak.
- Spiritual
Meliputi data tentang agama, kepercayaan, ketaatan beribadah, nilai-nilai moral keluarga.

- Lingkungan
Keadaan lingkungan yang perlu dikaji meliputi perumahan, luas tanah, tata ruang, ventilasi, pencahayaan, lantai dan lain-lain. Sumber air minum, tempat pembuangan sampah, serta pemanfaatan pekarangan.
- Keadaan kesehatan keluarga
(a) Imunisasi
Untuk mengetahui apakah anak-anak juga sudah diimunisasi atau belum serta untuk mengkaji seberapa jauh keluarga tentang pencegahan penyakit.
(b) Keluarga Berencana (KB)
Yang perlu dikaji antara lain:
Apakah ibu/pus sudah ber-KB atau belum, metode yang digunakan tempat kontrol KB, sudah berapa lama menggunakan alat kontrasepsi, keluhan-keluhan yang dirasakan selama menggunakan alat kontrasepsi.
(c) Keadaan Gizi
Meliputi pengkajian tentang makan keluarga, makanan pokok apakah ada makanan pantangan dalam keluarga serta perlu dikaji seberapa jauh pengetahuan keluarga tentang makanan yang mengandung gizi.
(d) Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Meliputi kebiasaan-kebiasaan berobat bila ada anggota keluarga yang sakit, mencari pertolongan kesehatan, pertolongan persalinan dan sebagainya.
ad. 2) Analisa Data
Dalam menganalisa data ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam perkembangan kesehatan keluarga yaitu:
a) Keadaan kesehatan yang normal dari setiap anggota keluarga yang meliputi: Keadaan fisik, mental, sosial dan pertumbuhan dan penghargaan gizi, kehamilan, status imunisasi, KB dan lain-lainnya.
b) Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan meliputi: Ventilasi, penerangan, kebersihan, konstruksi rumah, sumber air minum, jamban keluarga, tempat pembuangan air limbah serta pemanfaatan pekarangan yang ada.
c) Karakteristik keluarga meliputi: Sifat-sifat keluarga, dinamika dalam keluarga, komunikasi dalam keluarga, kesanggupan keluarga dalam membawa anggota keluarga, kebiasaan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga.


ad. 3) Perumusan Masalah
Setelah data dianalisa maka selanjutnya dapat dirumuskan masalah kesehatan dan keperawatan keluarga.
Dalam menyusun masalah kesehatan dan keperawatan keluarga selalu mengacu kepada tipologi masalah kesehatan dan keperawatan.
Dalam tipologi masalah kesehatan keluarga ada 3 kelompok masalah besar, yaitu:
a) Ancaman kesehatan adalah keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan mencapai potensi kesehatan.
b) Kurang/tidak sehat adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan.
c) Situasi krisis adalah saat-saat banyak menuntut individu/ keluarga dalam menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga.
Selain mengacu pada tipologi masalah kesehatan, juga mengacu pada berbagai alasan dari ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga dalam bidang kesehatan, diantaranya yaitu:
a) Ketidakmampuan mengenal masalah kesehatan keluarga.
b) Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat.
c) Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit.
d) Ketidakmampuan memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga.
e) Ketidakmampuan menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara kesehatan.
ÿÿad. 4) Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah situasi atau keadaan yang mengalami peningkatan kesehatan dan penyembuhan yang dapat diperbaikidbelalui tindakan keperawatan.
Diagnosa keperawatan keluarga ditetapkan berdasarkan faktor risiko dan faktor potensial terjadinya penyakit atau masalah kesehatan keluarga serta mempertimbangkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya. Diagnosa keperawatan ditegakkan dengan menggunakan formulasi PES (Problem Etiologi dan Sign)ÿÿÿÿÿÿDiagÿÿÿÿ keperawÿÿÿÿÿÿitÿÿÿÿÿÿÿÿuaÿÿdenganÿÿugas keluarga sebagai etiologi masalah dimana tugas keluarga tersebut mengalami gangguan, yaitu:
a) Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan anggota dan keluarga.
b) Ketidakmampuan keluarga menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga.
c) Ketidakmampuan keluarga melakukan tindakan keperawatan kesehatan kepada anggota keluarga yang sakit, mempunyai gangguan fungsi tubuh dan atau yang membutuhkan bantuan asuhan keperawatan.
d) Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan (fisik, psikis dan sosial) sehingga dapat menunjang peningkatan kesehatan keluarga.
e) Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan dan mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dengan lembaga pelayanan kesehatan dan sumber daya yang ada di masyarakat.
ad. 5) Prioritas Masalah
Setelah merumuskan masalah, langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas masalah kesehatan dan keperawatan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam prioritas masalah adalah sebagai berikut:
a) Tidak mungkin masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang ditemukan dalam keluarga dapat diatasi sekaligus.
b) Perlu mempertimbangkan masalah-masalah yang dapat mengancam kehidupan keluarga seperti masalah penyakit.
c) Perlu mempertimbangkan respon dan perhatian keluarga terhadap asuhan keperawatan yang akan diberikan.
d) Keterlibatan keluarga dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi.
e) Sumber daya keluarga yang dapat menunjang pemecahan masalah kesehatan/keperawatan keluarga.

f) Pengetahuan dan kebudayaan keluarga
Skala prioritas dalam menyusun masalah kesehatan keluarga.
Untuk dapat menentukan prioritas kesehatan dan keperawatan keluarga perlu disusun skala prioritas sebagai berikut:
Kriteria Nilai Bobot
1. Sifat masalah
Skala : - tidak/kurang sehat
- ancaman kesehatan
- krisis
2
3
1 1
2. Kemungkinan masalah dapat diubah
Skala : - dengan mudah
- hanya sebagian
- tidak dapat
2
1
0 2
3. Potensi masalah untuk diubah
Skala : - tinggi
- cukup
- rendah
3
2
1 1
4. Menonjolnya masalah
Skala : - masalah berat harus ditangani
- masalah yang tidak perlu segera ditangani
- masalah tidak dirasakan
2
1

0 1
Skoring :
1. Tentukan skor untuk setiap kriteria.
2. Skor dibagi dengan angka tertinggi dikaitkan dengan bobot.
3. Jumlah skor untuk semua kriteria.
4. Skor tertinggi adalah 5, dan sama untuk seluruh bobot.
b. Perencanaan
Perencanaan perawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi (Nasrul Effendi, 1998, hal: 54)
1) Rencana tujuan keperawatan keluarga meliputi:
Tujuan merupakan pernyataan yang lebih rinci tentang hasil keperawatan. Tujuan keperawatan akan menentukan kriteria yang dipakai untuk menilai keberhasilan keperawatan.
2) Tujuan jangka pendek, ditekankan pada keadaan yang mengancam kehidupan, misalnya sakit berat, penyakit menular dan sebagainya.
3) Tujuan jangka panjang, lebih menekankan pada perubahan perilaku, dari perilaku yang merugikan kesehatan menjadi perilaku yang menguntungkan kesehatan dan mengarah kepada kemampuan mandiri dalam memelihara kesehatan keluarga dan mengatasi masalahnya. Misalnya: cara merawat keluarga dengan penyakit kusta.

4) Kriteria evaluasi
Kriteria evaluasi adalah gambaran faktor-faktor tidak tetap yang dapat memberikan petunjuk bahwa tujuan telah tercapai, misalnya keluarga bila batuk dan meludah tak di sembarang tempat. Kriteria evaluasi terdiri dari respon verbal, respon afektif dan respon psikomotorik (Effendi, N, 1998, hal: 60).
5) Standar evaluasi
Standar evaluasi menunjukkan tingkat pelaksanaan yang diinginkan untuk membandingkan pelaksanaan yang sebenarnya. Standar akan memberitahukan apakah tingkat pelaksanaan yang dapat diterima atau keadaan yang bagaimana dapat mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan berhasil atau tujuan tercapai.
6) Rencana tindakan
Dalam menyusun rencana tindakan ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
a) Menyangkut peningkatan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan perilaku anggota keluarga.
b) Relevan dengan tujuan.
c) Relevan dengan masalah yang muncul.
d) Mungkin dilaksanakan dengan keluarga.
e) Sesuai dengan kondisi keluarga.
f) Adanya peran aktif keluarga.

c. Pelaksanaan/Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap keluarga, didasarkan pada rencana asuhan keperawatan yang telah disusun.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan terhadap keluarga antara lain:
1) Sumber daya keluarga
2) Tingkat pendidikan rendah
3) Adat istiadat yang berlaku
4) Respon dan penerimaan keluarga, serta keterlibatan keluarga
5) Sarana dan prasarana yang ada pada keluarga
d. Evaluasi
Penilaian adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai atau tidak setelah suatu tindakan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai tolok ukur dalam evaluasi adalah:
1) Kriteria evaluasi
2) Standar evaluasi
3) Perubahan perilaku
Metode yang digunakan di dalam penilaian adalah:
1) Observasi langsung
Adalah mengamati secara langsung perubahan yang terjadi dalam keluarga, misalnya: menutup mulut bila batuk, meludah tidak disembarang tempat.
2) Wawancara
Tanya jawab dengan keluarga berkaitan dengan perubahan sikap apakah telah menjalankan anjuran yang diberikan perawat. Misalnya: kebersihan diri maupun lingkungan.
3) Memeriksa laporan
Dapat dilihat dari rencana asuhan keperawatan yang dibuat dan tindakan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana.
4) Latihan stimulasi
Berguna dalam menentukan perkembangan kesanggupan melaksanakan asuhan keperawatan (Effendi, 1998, hal: 60)
3. Fokus pengkajian
Fokus pengkajian khusus pada penderita Diabetes Melitus antara lain:
a. Riwayat Kesehatan
Pada pengkajian riwayat kesehatan difokuskan pada:
- Sudah berapa lama klien menderita DM.
- Adakah anggota keluarga klien yang menderita DM dan apabila ada siapa silsilah keluarga yang menderita Diabetes Melitus.
- Apakah tanda dan gejala DM sering dialami klien.
- Apakah ada kenaikan yang berat tentang gula darah.
b. Kebutuhan konsumsi makan dan kebutuhan sehari-hari
Pada pengkajian kebutuhan konsumsi makan sehari-hari difokuskan pada:
- Kebiasaan pola makan sehari-hari.
- Bagaimana diit Diabetes Melitus.
- Makanan apa yang boleh dikonsumsi dan tidak boleh dikonsumsi.
- Bagaimana gaya hidup sebelum menderita Diabetes Melitus.
- Bagaimana pola aktivitas tidur dalam sehari-hari.
- Bagaimana pola eliminasi pasien.
- Bagaimana tingkat emosional klien.
c. Karakteristik lingkungan
Pada karakteristik lingkungan difokuskan pada:
- Bagaimana situasi penerangan dan kelembapan ruangan tempat tinggal klien.
- Bagaimana keadaan peralatan/perabotan dalam keluarga apakah membahayakan dan dapat mengakibatkan injuri.
- Bagaimana kebersihan keseluruhan lingkungan rumah dan sekitarnya.
d. Pemeriksaan fisik
- Tekanan darah
- Gula darah
- Kelembapan kulit
- Berat badan
4. Kerangka pikir














a. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
Berdasarkan tugas-tugas keluarga dalam bidang kesehatan, maka diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada asuhan keperawatan keluarga adalah:
1) Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga mengenai penyebab, pencegahan, perawatan sehari-hari, diit dan komplikasi Diabetes Melitus.
2) Ketidaksanggupan mengenal penyakit Diabetes Melitus berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai luas dan sifat masalah Diabetes Melitus.
3) Ketidaksanggupan keluarga tentang penyakit Diabetes Melitus dalam melakukan tindakan yang tepat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan sumber daya keluarga.
4) Ketidaktahuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai cara-cara modifikasi lingkungan rumah dan usaha-usaha pencegahan penyakit.
5) Resiko tinggi terjadinya integritas kulit berhubungan dengan suplai darah dan zat-zat gizi kejaringan kurang di akibatkan oleh Diabetes Melitus.
6) Risiko tinggi terjadinya syok hiperglykemia berhubungan dengan peningkatan kadar gula dalam darah.


b. Fokus Intervensi
1) Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
a) Tujuan:
Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit, mengenai penyebab, pencegahan, perawatan sehari-sehari di rumah, diit dan komplikasi Diabetes Melitus diharapkan keluarga mampu merawat anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus.
b) Intervensi:
1) Jelaskan kepada keluarga mengenai penyebab, pencegahan, perawatan sehari-hari, diit dan komplikasi Diabetes Melitus.
2) Demonstrasikan bersama keluarga mengenai cara memilih diit yang tepat untuk penderita Diabetes Melitus.
3) Beri motivasi kepada keluarga untuk memeriksakan anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus secara rutin.
4) Libatkan keluarga dalam perawatan anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus.
2) Ketidaktahuan keluarga mengenal penyakit Diabetes Melitus berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai luas dan sifat masalah Diabetes Melitus pengetahuan atau ketidaktahuan fakta.


a) Tujuan:
Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 1 x 15 menit mengenai sifat dan luasnya masalah Diabetes Melitus keluarga mampu mengerti tentang penyakit Diabetes Melitus.
b) Intervensi:
1) Jelaskan kepada keluarga mengenai sifat, berat dan luasnya masalah Diabetes Melitus yang dihadapi keluarga.
2) Jelaskan kepada keluarga beberapa tindakan yang dapat dilakukan keluarga sesuai dengan kemampuan keluarga.
3) Motivasi keluarga untuk menyebutkan kembali mengenai sifat, berat dan luasnya masalah Diabetes Melitus yang dihadapi keluarga.
4) Berikan pujian atas usaha yang telah dilakukan keluarga.
3) Ketidaksanggupan keluarga tentang penyakit Diabetes Melitus dalam melakukan tindakan yang tepat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan sumber daya keluarga.
a. Tujuan
Setelah diberikan penyuluhan kesehatan selama 1 x 30 menit mengenai cara-cara perawatan, pencegahan, perawatan sehari-hari, diit dan komplikasi Diabetes Melitus, diharapkan keluarga mampu melakukan tindakan yang tepat pada anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus.

b. Intervensi:
(1) Jelaskan kepada keluarga mengenai penyebab, cara-cara merawat, pencegahan, komplikasi anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus.
(2) Beritahu keluarga mengenai fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.
(3) Libatkan keluarga dalam usaha perawatan anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus.
4) Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga mengenai cara-cara modifikasi lingkungan rumah dan pencegahan penyakit.
a) Tujuan
Setelah dilakukan penyuluhan selama 30 menit mengenai cara-cara memodifikasi lingkungan rumah dan usaha-usaha pencegahan penyakit diharapkan keluarga mampu memahami cara-cara memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi angota keluarga.
b) Intervensi
(1) Jelaskan pada keluarga tentang manfaat memelihara lingkungan rumah dalam usaha pencegahan penyakit.
(2) Jelaskan kepada anggota keluarga tentang cara-cara memodifikasi lingkungan rumah.
(3) Libatkan keluarga dalam usaha menjaga dan memelihara lingkungan rumah.
5) Resiko tinggi terjadinya integritas kulit berhubungan dengan suplai darah dan zat-zat gizi kejaringan kurang di akibatkan oleh Diabetes Melitus.
a) Tujuan
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang pencegahan dan penatalaksanaan Diabetes Melitus diharapkan keluarga dan klien mampu melakukan perawatan pada anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus.
b) Intervensi
(1) Jelaskan kepada keluarga tentang pengertian integritas kulit dan penyebabnya.
(2) Jelaskan kepada keluarga dan klien tentang pencegahan, penatalaksanaan dan diit Diabetes Melitus.
(3) Motivasi keluarga dan klien untuk menghindari terjadinya integritas kulit.
(4) Motivasi keluarga dan klien untuk melakukan diit Diabetes Melitus dengan benar.


Photobucket